Category Archives: Personal Notes

Social Media, Penghasilan Baru untuk Para Selebritis?

Tweet Berbayar

“Eh, kalau ada tweet berbayar gw mau dong cuy” Ini ungkapan yang sekarang sering terdengar di kalangan pekerja seni dan selebriti. Fenomena tweet berbayar memang bukan menjadi hal yang aneh lagi dikalangan penikmat social media khususnya twitter. Profesi yang lebih dikenal dengan nama buzzer ini mulai banyak dijalani oleh para pekerja seni dan kalangan selebriti.

Tren social media dan hadirnya social media marketing membuka peluang bagi para artis dan selebriti untuk mempunyai penghasilan baru yang cukup menggiurkan. Selebriti merupakan salah satu kekuatan pendorong di dalam social media marketing, karena biasanya konten-konten yang diciptakan seorang selebriti dapat dengan mudah menarik perhatian dan mengarahkan opini publik.

Follower yang banyak dan apa yang disebut dengan engagement antara follower dengan si pemegang akun, yang dalam hal ini adalah selebriti, dapat menarik perhatian sebuah merek dagang untuk menjadikan selebriti tersebut menjadi seorang key opinion leader untuk aktifitas marketing di social media. Hal ini menciptakan peluang bisnis baru untuk para selebriti. Maka penting bagi para selebriti untuk mempunyai sebuah akun social media dengan follower yang banyak dan cukup aktif dalam melakukan komunikasi dua arah dengan para follower mereka.

Bisa dibayangkan, untuk 10 kali promo tweet seorang selebriti yang mempunyai jumlah follower ratusan ribu bisa mendapat penghasilan sebesar 20 hingga 30 juta. Kalau dipikir-pikir itu setara dengan panghasilan seorang penyanyi atau band untuk dua kali show. Jika dibandingkan effortnya agak jomplang memang. Tapi nanti dulu, bukankan punya follower ratusan ribu itu juga tidak mudah? Ya jika anda kurang terkenal dan bukan seorang selebriti sedangkan untuk selebriti yang sudah punya banyak fans, punya puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu follower bukanlah hal yang terlalu sulit.

Tetapi ada hal yang mungkin terlewat untuk dipertimbangkan saat seorang buzzer melakukan tweet berbayar. Belum tentu semua followernya suka dengan produk yang sedang dikampanyekan melalui tweet idolanya. Untuk sekedar mendapat perhatian bisa dibilang sukses, tapi apakah promosi tersebut sudah tepat sasaran?. Dari pertanyaan ini bisa kita tarik poin bahwa penting untuk seorang buzzer yang dalam hal ini adalah selebriti untuk memilih sebuah wadah untuk mengkampanyekan sebuah brand.

Bayangkan jika seorang selebriti yang juga seorang Key Opinion Leader atau buzzer mempunyai lebih dari satu tempat untuk mempromosikan sebuah produk. Dan bisa membuat konten promosi yang lebih dari sekedar tulisan yang panjangnya hanya 140 karakter.

Berpromosi ditempat yang mana sebuah brand akan diterima dengan baik karena sesuai dengan minat audience ditempat tersebut sangatlah penting. Maka platform social interest adalah pilihan baru yang lebih tepat. Ada beberapa platform yang dikenal sebagai social interest, dan Mindtalk.com salah satunya.

Kalo dilihat dari fitur-fitur dan karakternya, Mindtalk mempunyai beberapa kelebihan yang bisa dipakai untuk menjalankan kegiatan marketing sebuah brand. Disini kita bisa menemukan berbagai macam kanal yang isinya adalah orang-orang yang mempunyai interest yang sama. Contohnya kita akan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai minat dan hobi dengan kendaraan roda dua di kanal motor. Dengan mudah orang-orang di kanal ini akan mengkonsumsi sebuah artikel, foto bahkan video sebuah brand yang berhubungan dengan kendaraan roda dua.

Jika seorang selebriti yang juga menikmati pekerjaan sampingan sebagai seorang buzzer bisa memanfaatkan Mindtalk untuk kegiatan kampanyenya, bisa jadi sebuah brand akan lebih tertarik untuk memakai jasanya untuk kegiatan marketing.

Tentunya akan juga menjadi kebanggaan tersendiri ketika ternyata platform social media yang dipakai merupakan karya anak negeri. Dengan demikian, Mindtalk, selain memberikan celah komersialisasi baru, para selebriti ini juga ikut andil secara tak langsung dalam membawa nama harum bangsa Indonesia melalui Mindtalk.

7 Best Practices dalam menyusun Strategi Digital yang efektif

Strategi Digital yang efektif memang tidak bisa disamaratakan untuk semua bidang, baik itu untuk brand, gerakan sosial, maupun kampanye untuk sebuah produk startup. Setiap industri pasti memiliki environment dan insight yang berbeda. Tapi jika kita mempelajari beberapa Studi Kasus beberapa Strategi Digital yang sukses dan efektif, ada beberapa kesamaan yang bisa menjadi referensi.

1. Berangkat dari konsep yang jelas.

Dalam menyusun konsep dari suatu strategi digital yang efektif, kita bisa memulainya dari sebuah insight yang kuat. Insight yang powerful bisa didapat dari riset yang benar. Sebelum memulai riset, seorang Strategist (orang yang bertanggung jawab dalam menyusun strategi) harus benar-benar bisa menggali insight dari brand & produk itu sendiri, target audience, dan market.

Beberapa brand dan startup yang sukses memulainya dengan melakukan beberapa riset primer dan sekunder dari target audience. Untuk yang riset primer,  biasanya mereka melakukan Focus Group Discussion, face-to-face interview, atau mencari langsung Share of Voice dari social media dimana target audience yang banyak berkumpul.  Sedangkan riset sekunder bisa didapat dari report / hasil riset pihak lain

Setelah mendapatkan insight dari Target Audience, baru kemudian dikawinkan dengan Brand dan Product Values untuk menemukan WHY? Marketing Guru, Simon Sinek dengan jelas mengatakan “Start with Why?” agar bisa meninspirasi konsumen untuk mengambil action yang kita mau.

“People don’t buy what you do; people buy why you do it.”
Simon Sinek

2. Menentukan Channel utama dan Supporting Channel yang tepat.

Strategi Digital yang ciamik ternyata tidak harus menggunakan semua channel untuk melakukan promosi. Belum tentu setiap channel itu pas dengan Target Audience. Apakah website ternyata menjadi channel utama, dan Social Media / mobile yang menjadi channel pendukung, atau bisa sebaliknya.

Ketika memilih Social Media pun sebaiknya dipikirkan SM mana yang pas. Ya kita tahu bahwa Indonesia menjadi pengguna Facebook kedua tertinggi di dunia, dan menjadi Negara paling cerewet di Twitter, tapi apakah benar itu channel yang pas untuk produk kita? Belum tentu.

Ambil contoh, produk kita adalah sebuah device pelacak truk tambang yang terintegrasi dengan web yang digunakan oleh para manager operasional atau suatu sistem yang berguna untuk perusahaan yang mengandalkan teknologi terbaru (produk B2B),

Mereka jarang menggunakan Facebook, apalagi twitter. Yang paling sering mereka akses hanya email, search engine untuk mencari informasi, dan online news. Jadi jelas sekali social media bukan channel yang tepat, malah Website/Blog menjadi channel utama dengan pendekatan e-Direct Marketing, dan strategi SEO & Media Placement/Online Advertorial, atau mungkin Brand Content Experience di sebuah online media menjadi pilihan yang paling efektif.

Buat strategi dan pilih channel yang sesuai dengan karakter audience kita.

3. Fase Campaign yang terarah, mempunyai benang merah, dan sesuai dengan Marketing Plan.  

Banyak strategi digital yang gagal “kena” di hati audience karena hal yang sederhana: Konsistensi. Banyak brand yang melakukan A, B, C Campaign, tapi dalam setiap campaign tidak ada konsistensi dari sisi message dan tone. Disamping itu, inkonsistensi terlihat jelas antara Digital dan ATL (Above-The-Line)/BTL.

Buatlah fase campaign yang terintegrasi antara online dan offline. Pilih jenis campaignnya, apakah digital driven yang berarti ATL/BTL sebagai support, atau sebaliknya.

4.  Orisinalitas Konten.  

Konten yang bisa meluluhkan, menginsipirasi, dan mempengaruhi konsumen adalah suatu keharusan. Konten tersebut bisa masuk ke dalam alam bawah sadar sehingga membuat mereka membicarakan, membeli, bahkan mencintai sebuah brand & produk. Konten yang seperti ini harus konten yang original.

Konten yang original bukan berarti konten tersebut benar-benar asli dan tidak bisa ditemui dimanapun, tetapi konten yang mengambil angle lain yang sesuai dengan Target Audience.

5. Endorser yang tepat dengan konten yang relevan,

Sama dengan sebuah campaign ATL/BTL,dalam strategi digital penggunaan endorser bisa menjadi salah satu tools pendukung yang efektif. Pilih endorser sesuai karakter brand kita, jangan pilih berdasarkan popularitas saja. Endorser di dunia digital sering disebut dengan KOL (Key Opinion Leader), para KOL ini mempunyai massanya masing-masing dan gaya komunikasinya sendiri, baik didalam blog atau follower dari KOL tsb. Tujuan utama dari penggunaan KOL adalah menciptakan conversation terhadap brand / produk kita.

KOL ini tentu saja bisa berbayar atau tidak berbayar, tergantung dari seberapa bernilainya brand/produk kita dimata mereka. Ada banyak campaign yang menggunakan paid influencer/KOL berbayar tapi hasilnya kurang maksimal, karena mereka tidak menimbulkan impact yang luas, konten yang terlalu jelas bahwa konten tersebut berbayar, dan tidak relevan dengan brand.

Jika memang berbayar, sebaiknya menggunakan strategi efek bola salju agar hasilnya maksimal dengan konten yang relevan dan natural (jangan terlihat seperti berpromosi).

6. Mempunyai Measurement Framework yang sesuai dengan business objectives.

Kita akan tahu bahwa strategi digital yang dibuat apakah berhasil dan efektif berdasarkan hasil yang kita dapat. Tapi hasil yang seperti apa? Bagaimana untuk mengetahui hasilnya (Output dan Outcome)? Pertanyaan seperti ini bisa kita jawab ketika kita mempunyai sebuah kerangka pengukuran / Measurement Framework.

Measurement Framework yang benar, tidak melihat dari metrics apa yang akan dipakai, tapi melihat objective bisnis/campaignnya apa. Kemudian darisitu, kita menentukan kira-kira metrics yang utama apa, dan KPInya berapa.

Saat ini, masih banyak yang terjebak dalam metrics yang tidak menjawab kebutuhan bisnis, seperti dalam social media, , banyak yang lihatnya dari berapa jumlah likes, dsb. Sedangkan ada Metrics lain yang lebih menjawab kebutuhan brand.

Berikut adalah beberapa contoh bagaimana measurement  framework yang menjawab business objectives.

7. Optimisasi dari semua asset digital yang kita punya.

“Strategi yang ok sudah dibuat, endorser sudah berjalan, konten sudah perfect, channel yang dipilih sudah relevan tapi kenapa masih kurang efektif ya?”

Beberapa brand manager dan digital marketer banyak mengeluh hal yang serupa. Setelah dilihat problemnya, ternyata banyak dari asset digital yang mereka punya tidak teroptimisasi dengan baik, misalkan ternyata dalam salah satu halaman dari website kita ada struktur kode/elemen yang tidak ramah terhadap search engine, timing pada saat kita melakukan twitter update tidak sesuai dengan audience kita, desain kreatif yang ada di cover facebook page  kita sangat tidak sesuai dengan brand values, dsb.

Optimisasi dalam setiap asset digital tidaklah mudah. Perlu perhatian detail terhadap setiap bagian. Maka ada baiknya dilakukan review minimal sekali setiap minggunya untuk mengetahui apakah kita semakin membaik atau malah jauh dari efektif.

Where’s the outcome, dude?

photo source: flickr

Mengejar dan merencakan sesuatu itu penting, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa mengeksekusinya dengan tepat dan cermat. Banyak hal yang saya rencanakan namun lemah dalam implementasinya. Banyak ide cemerlang namun sangat tidak cemerlang dalam pelaksanaannya.

Yang sudah saya alami dan saya pelajari selama ini adalah, jangan hanya memikirkan ide atau strategi yang hebat saja, tapi pikirkan juga bagaimana implementasinya. Jangan sampai membuang-buang waktu dalam memikirkannya, tetapi malah lemah dalam ‘action’. Ide yang sangat sederhana bisa jadi sesuatu yang hebat ketika kita melakukannya dengan cepat, tepat, benar, dan peduli akan hal detail.

Dari pengalaman saya, hasil yang hebat justru dihasilkan dari 5 % ide dan 90 % action, dimana hasilnya akan 95%. Ingin lebih, tambah dengan doa, bisa jadi 150 %, 300%, bahkan lebih. Trust me!

Terkadang kita merasa waktu itu terasa lebih cepat setiap harinya, saya sendiri merasakannya. Tau – tau 2011 sudah mau berakhir. Namun apakah ide-ide di tahun ini sudah banyak yang terlaksana? Beberapa ya, namun banyak yang ngga. It’s just gone with the wind. Gone…

photo source: flickr

So, saya harus lebih banyak belajar lagi, belajar dari apa yang terlewat, dari teman-teman semua yang berhasil menjadikan ide temen-temen menjadi nyata, dan dari hasil selama ini yang saya dapat. Semoga kita semua menjadi manusia yang efektif. Efektif dalam menjalani hidup, tidak pernah membuang-buang waktu lagi untuk yang tidak berguna, dan mengerti bahwa hidup ini hanya sementara. Dan mungkin saya bisa Tanya terhadap diri saya sendiri: Sudahkah saya membuat sesuatu yang bermanfaat?

I skipped February, Yes. So, Welcome March!

One month. Rasanya durasi yang cukup untuk istirahat ngeblog sebentar untuk mengurus ini itu yang tentunya tak kalah pentingnya. Ada beberapa hal yang saya akan coba share ke teman-teman semua selama saya melakukan blogging break, diantaranya:

1. Saya sudah menjadi bagian dari Jakarta


Mulai tanggal 21 Februari kemarin, saya resmi pindah ke Jakarta. Bukan pindah rumah, tetapi “ngekost” :D . Yeay! Saya jadi anak kost di belantara Jakarta yang semakin lama semakin ramah ini. Saya pensiun jadi seorang daily commuter dikarenakan saya pindah ke tempat kerja yang baru. Ada suka ada duka tentunya dalam mengambil keputusan ngekost ini. Sukanya, sekarang saya tidak perlu lagi berdesak-desakan lagi dan berkeluh kesah dengan sarana dan prasarana transportasi yang semakin memprihatinkan. Badan jadi segar, pikiran fokus, dan jadi lebih hemat. Tapi dukanya, saya tidak bisa lagi menjemput @phetonk (Senin – Jumat), dan tidak bisa lagi makan malam bersama sambil menikmati sejuknya udara Bogor selama hari kerja. Meskipun begitu, saya pasti pulang setiap weekend. (Hasilnya, Bogor, Sabtu, dan Minggu menjadi sesuatu yang spesial dan ditunggu-tunggu).

2. Expanding network, Gaining Social Energy


Sekarang waktu saya di Jakarta bisa dibilang menjadi Full Time. Oleh karena itu saya bertekad untuk do something valuable dari Senin – Jumat. Saya harus bisa memaksimalkan potensi waktu yang ada dan mengubahnya menjadi asset masa depan. Saya akan lebih banyak bersoasialisasi dengan network saya, belajar hal-hal yang menjadi passion saya selama ini, dan bermain-main di dunia pekerjaan yang mengasyikkan ini. Semoga at the end of this period, network saya bertambah dan Energi Sosial meningkat.

3. There’s always a backup plan


Sebenarnya kepindahan saya ke tempat kerja yang baru, sedikit mengubah rencana hidup saya untuk tahun ini. Dalam perubahan ini, saya tetap harus bisa menjaganya untuk tetap on-track. Oleh karena itu, saya sudah menyiapkan rencana cadangan. Yak, apa rencana cadangan itu? dengan seiringnya waktu, saya rasa teman -teman akan tahu.

Oh ya di kantor yang baru ini, saya juga membawa teman-teman terbaik saya untuk ikutan pindah; ada Gorga dan Dhany. Bersama mereka akan ada loncatan-loncatan ide kreatif yang muncul untuk meramaikan dunia online dan offline ke depannya. So friends, semoga postingan saya pertama di bulan Maret ini bisa kembali menyundul blog ini untuk terus aktif lagi. Btw, Share kabar kalian yaa?

Image Source: Flickr and Google

Imagination – MyFaveQuotes #1

“Logic will get you from A to Z; imagination will get you everywhere.”

-Albert Einstein, Inventor & Scientist -

 

MyfaveQuotes Launch now!

A letter. A word. A Sentence. of quote is one of human greatest arts. Starting from tonite, I’ll regularly post quote from everyone that has been inspiring me. It can be from tweet, blogs, status, or whatever that I’ve found. It can be from a legend, actor, director, someone special, friend, or even you.

The Quotes also can be in english, bahasa, or other languages in the world. The most important thing is, hopefully, the quote can inspire me and the readers to be a better person. What about the time? as long as the sun has changed the shift with the moon, I’ll post the quote.

At the end, hope you enjoy my Quotes version. :D Cheers

2011, 1st posting

A lot of writing works that i have to upload, but still have to find the right place to upload the video (read: office) because the size is so huge. Please be patience guys.

For this first posting in 2011, I just want to quote my new friend’s comment on twitter,

By shining a light on others, you shine a brighter light on yourself

Devin Zimmerman, Digital Strategist, 360 Digital Influence at Ogilvy Public Relations Worldwide

Apa yang sudah saya lakukan untuk “Save Social Energy and Stay Connected”

Disamping melakukan hal-hal yang teknis untuk memaksimalkan energi sosial (lihat Save Your Social Energy in 2011: Focusing Your Network into Your Passion), saya juga melakukan clustering and developing community supaya aktivitas sosial saya berkembang untuk terus mengisi bahan bakar untuk passion saya.

Ada beberapa hal yang saya lakukan agar Stay Connected di Social Circle saya, beberapa hal diantaranya adalah:

Membentuk komunitas online-offline yang dapat mengisi energi sosial saya secara efektif dan efisien. Bersama teman-teman, saya membentuk komunitas Tahu Isi, komunitas lintas profesi yang tentunya anggotanya diawali dengan orang-orang yang ada dalam lingkaran sosial saya.

Tahu isi is a forum aim at enriching its participants. We facilitate outrageous people to share their experience about the topic to the outrageous viewers.

Saat ini Tahu Isi sudah mengadakan 2 kali “sharing experience”, untuk Tahu Isi #1, membahas tentang “I’m doing my job passion”, sedangkan Tahu Isi 2 membahas tentang “Taking Steps to have our healthy life”.

Disamping Tahu Isi, dengan fasilitas facebook group yang baru dan lebih interaktif, saya menginisiasi Social Media Strategist Club. Kenapa? Social Media is my passion dan juga menjadi passion banyak blogger dan social media junkie yang juga praktisi Social Media di Indonesia. Kenapa tidak difokuskan saja conversation dan sharing-nya menjadi dalam satu wadah :D

As the 2nd Largest Facebook Country, Indonesia has a significance role in term of social media development in the world. While on the other hand, The Social Media practitioners also has a big role to have a good, effective, and positive strategic plan to implement the brand's campaign, social cause, and others into Social Media Scene. Let's have a chit-chat and small talk about Social Media in Social Media Strategist Club. Enjoy! "Embracing Social Media Positive Impact in Indonesia"

Untuk yang tertarik dengan Tahu Isi silahkan join melalui facebook pagenya Tahu Isi.  Dan untuk yang memang ber-passion di Social Media, silahkan untuk join facebook groupnya di Social Media Strategist Club. (Saran saya jika ingin bergabung, pikirkan terlebih dahulu apakah memang sudah sesuai passion teman-teman, ini saya tekankan agar kita bisa sama-sama fokus dan sharing tentang passion yang sama. Jadi energi sosial kita tidak akan terkuras satu sama lain).

Yang kedua, saya sangat senang sekali berdiskusi, saling berbagi tentang dunia Public Relations. Oleh karena itu, saya mengawalinya dengan membentuk PRTalk Grup di BBM, kemudian bentuk diskusinya saya fokuskan di twitter dengan menggunakan hashtag #PRTalk. Dengan begitu ketika saya, teman-teman, dan semua PR enthusiast ingin berdiskusi tentang PR, bisa langsung fokus dengan #PRTalk.

Sedangkan untuk aktivitas offline dari #PRTalk, semua individu, komunitas, pelajar, dsb bisa mengadakan diskusinya diamanapun, kapanpun di daerah mereka masing-masing tanpa harus menunggu izin, dll (karena ini milik publik). Untuk aktivitas offline pertama, Himpunan Mahasiswa PR Undip berhasil mengadakan #PRTalk di kampus mereka. It’s great! Dan saya yakin akan ada #PRTalk lainnya di tempat lain.

Dengan beberapa hal diatas yang saya lakukan saya dapat melakukan efisiensi dalam pemanfaatan Social Energy. :D Selamat mencoba!

Save Your Social Energy in 2011 and Focusing Your Network into Your Passion

Tahun 2010 sudah hampir berakhir, entah berapa banyak saya bertemu dengan orang baru, dunia baru, dan komunitas baru yang berawal dari sebuah revolusi bernama Social Media. Mungkin jika digambarkan lingkaran sosial (social circle) saya akan seperti dibawah ini:

Result dari Social Network Analysis dengan menggunakan Microsoft NodeXL

Sangat kompleks bukan. Data diatas baru berdasarkan satu social media, facebook, belum twitter, dan lain-lain. Bisa dibayangkan berapa energi yang akan terkuras untuk membuat online dan offline relationship menjadi stabil. Apabila kita menggunakan teori dari Dr. Dunbar (Dunbar’s Numbers), bahwa primata idealnya memiliki jumlah grup (network) antara 140 – 150 individu, lebih dari itu tingkat kohesitas suatu network akan berkurang dan energi sosial yang harus dikeluarkan sangatlah besar. (Cek article tentang “Primates on Facebook: Even online, the neocortex is the limit”).

Untuk menjaga agar lingkaran sosial kita dengan baik, diperlukan energi. Energi ini disebut Energi Sosial. Dalam tulisan Scott H. Young tentang Social Energy, disebutkan bahwa Social Energy adalah energi yang didapatkan dari hasil stimulasi dengan lingkungan (environment) dan individu lainnya baik offline dan online. (Merasa familiar? yup, saya rasa semua netizen banyak yang melakukan ini.)

Social Media Clutter lead to Social Media Chaos

Pernah merasa lelah, jenuh, bahkan stress dalam melakukan aktivitas bersosialisasi di dunia online? Jika ya, bisa disimpulkan bahwa Energi Sosial teman-teman semua sudah terkuras.

Ratusan inbox di email, facebook, foursquare, ratusan comment di News Feed Facebook, blog, ribuan timeline di twitter, DM, bahkan mungkin chat yang perlu dibalas dalam Instant Messaging yang berbeda, inilah yang menyebabkan energi sosial terkuras. Belum lagi ketika spam atau hal-hal yang tidak penting bermunculan. Can we make it simple in one place?

Hal-hal diatas bisa disebut sebagai Social Media Clutter, dimana teman-teman terjebak dalam social media environment yang isinya adalah informasi yang bukan teman-teman inginkan tapi harus diterima karena mungkin itu dari teman di facebook, twitter, dan lain sebagainya. Dari Social Media Clutter ini maka akan mengantarkan kita ke Social Media Chaos.

Save your Social Energy

Tahun 2011 sudah di depan mata. Lingkaran sosial kita akan bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna social media di Indonesia. Permasalahannya adalah “Apakah kita bisa memaksimalkan lingkaran sosial yang ada yang bertujuan dengan tujuan hidup kita?” atau mungkin kita sebagai makhluk sosial masih belum mengetahui “Untuk apa kita membina hubungan dan memperbanyak jaringan dengan setiap individu?”

Pertanyaan terakhir harus dijawab terlebih dahulu. Apa tujuan kita membina hubungan dan memperbanyak jaringan? Apakah itu sudah relevan dengan interest atau passion kita? Jika belum, saran saya, fokuskan lingkaran sosial yang teman-teman miliki dengan passion. Scott H. Young membuat software open source yang membantu kita untuk menentukan tujuan hidup kita dan berlatih untuk focus dengan apa yang kita tuju dengan bersosialisasi (bisa teman-teman download disini).

Setelah pertanyaan pertama terjawab, bagaimana dengan “Apakah kita bisa memaksimalkan lingkaran sosial yang ada yang bertujuan dengan tujuan hidup kita?” Memaksimalkan yang dimaksud adalah melakukan kegiatan yang efisien dan efektif dalam penggunaan Energi Sosial yang kita punya. Berikut adalah tips untuk melakukan Save Social Energy:

  1. Buatlah semua kebutuhan online dan social media dalam satu tempat. Jika pada saat ini teman-teman banyak melakukan aktivitas online dengan menggunakan beragam cara, cobalah gunakan aplikasi/software/browser yang sudah menyediakannya dalam satu tempat. Centralize.
  2. Gunakan waktu secara efisien dan efektif. Kita cuma punya waktu 24 jam. Bisa dibayangkan apabila kita melakukan aktivitas di sosial media yang menguras waktu tapi tidak berkaitan dengan tujuan hidup kita.
  3. Setting Back Again your Social Media Account! Pernah merasa di-tag foto atau gambar yang kita tidak inginkan, dan membuat wall di profile kita seperti pasar malam? Jika ya, maka saatnya mengatur kembali pengaturan (privacy, permission, dsb) di social media account teman-teman.
  4. It’s not about quantity, it’s all about quality. Sudah saatnya teman-teman berbagi hal-hal yang berkualitas di sosial media. Think before you tweet, and update your status! Janganlah kita membuat teman-teman kita merasa terganggu oleh hal-hal yang tidak penting. Janganlah kita menguras energi sosial mereka, bukankah kita juga tidak ingin apabila hal yang tidak penting mengganggu kita. :D
  5. Gunakan teknologi secara pintar, janganlah teknologi yang seharusnya membuat kita mudah malah membuat susah dan rumit (teknologi paradoks).

Mari kita maksimalkan energi sosial yang kita punya untuk membuat hidup menjadi lebih baik dan bermanfaat untuk lingkaran sosial kita dan masyarakat.

Primates on Facebook

Even online, the neocortex is the limit

Yes, I’m back

Looking for a new spirit booster, sometimes, is not easy and simple. You need a self awareness process to find that, even you need to define your self concept. Yeah it happened to me..

Almost two weeks ago, I felt numb.. Sometimes empty.. Looking for something, looking for clarity.. Loosing the right path. Don’t know what goal should be focused.

Thanks for her, my dearest fiancee, for taking care of me. Thanks God, You are so kind. You have clicked the tweak-button.

Just right now, 17.54, I’m back, me as an individual ego homo sapiens, be ready to set and achieve my passions. Thanks for every single nano object for bring me to the right path.

Guys, this is my first posting in Oct. Let’s rock and roll my Twinkle Spin!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,361 other followers