Category Archives: Marketing & Public Relations

7 Best Practices dalam menyusun Strategi Digital yang efektif

Strategi Digital yang efektif memang tidak bisa disamaratakan untuk semua bidang, baik itu untuk brand, gerakan sosial, maupun kampanye untuk sebuah produk startup. Setiap industri pasti memiliki environment dan insight yang berbeda. Tapi jika kita mempelajari beberapa Studi Kasus beberapa Strategi Digital yang sukses dan efektif, ada beberapa kesamaan yang bisa menjadi referensi.

1. Berangkat dari konsep yang jelas.

Dalam menyusun konsep dari suatu strategi digital yang efektif, kita bisa memulainya dari sebuah insight yang kuat. Insight yang powerful bisa didapat dari riset yang benar. Sebelum memulai riset, seorang Strategist (orang yang bertanggung jawab dalam menyusun strategi) harus benar-benar bisa menggali insight dari brand & produk itu sendiri, target audience, dan market.

Beberapa brand dan startup yang sukses memulainya dengan melakukan beberapa riset primer dan sekunder dari target audience. Untuk yang riset primer,  biasanya mereka melakukan Focus Group Discussion, face-to-face interview, atau mencari langsung Share of Voice dari social media dimana target audience yang banyak berkumpul.  Sedangkan riset sekunder bisa didapat dari report / hasil riset pihak lain

Setelah mendapatkan insight dari Target Audience, baru kemudian dikawinkan dengan Brand dan Product Values untuk menemukan WHY? Marketing Guru, Simon Sinek dengan jelas mengatakan “Start with Why?” agar bisa meninspirasi konsumen untuk mengambil action yang kita mau.

“People don’t buy what you do; people buy why you do it.”
Simon Sinek

2. Menentukan Channel utama dan Supporting Channel yang tepat.

Strategi Digital yang ciamik ternyata tidak harus menggunakan semua channel untuk melakukan promosi. Belum tentu setiap channel itu pas dengan Target Audience. Apakah website ternyata menjadi channel utama, dan Social Media / mobile yang menjadi channel pendukung, atau bisa sebaliknya.

Ketika memilih Social Media pun sebaiknya dipikirkan SM mana yang pas. Ya kita tahu bahwa Indonesia menjadi pengguna Facebook kedua tertinggi di dunia, dan menjadi Negara paling cerewet di Twitter, tapi apakah benar itu channel yang pas untuk produk kita? Belum tentu.

Ambil contoh, produk kita adalah sebuah device pelacak truk tambang yang terintegrasi dengan web yang digunakan oleh para manager operasional atau suatu sistem yang berguna untuk perusahaan yang mengandalkan teknologi terbaru (produk B2B),

Mereka jarang menggunakan Facebook, apalagi twitter. Yang paling sering mereka akses hanya email, search engine untuk mencari informasi, dan online news. Jadi jelas sekali social media bukan channel yang tepat, malah Website/Blog menjadi channel utama dengan pendekatan e-Direct Marketing, dan strategi SEO & Media Placement/Online Advertorial, atau mungkin Brand Content Experience di sebuah online media menjadi pilihan yang paling efektif.

Buat strategi dan pilih channel yang sesuai dengan karakter audience kita.

3. Fase Campaign yang terarah, mempunyai benang merah, dan sesuai dengan Marketing Plan.  

Banyak strategi digital yang gagal “kena” di hati audience karena hal yang sederhana: Konsistensi. Banyak brand yang melakukan A, B, C Campaign, tapi dalam setiap campaign tidak ada konsistensi dari sisi message dan tone. Disamping itu, inkonsistensi terlihat jelas antara Digital dan ATL (Above-The-Line)/BTL.

Buatlah fase campaign yang terintegrasi antara online dan offline. Pilih jenis campaignnya, apakah digital driven yang berarti ATL/BTL sebagai support, atau sebaliknya.

4.  Orisinalitas Konten.  

Konten yang bisa meluluhkan, menginsipirasi, dan mempengaruhi konsumen adalah suatu keharusan. Konten tersebut bisa masuk ke dalam alam bawah sadar sehingga membuat mereka membicarakan, membeli, bahkan mencintai sebuah brand & produk. Konten yang seperti ini harus konten yang original.

Konten yang original bukan berarti konten tersebut benar-benar asli dan tidak bisa ditemui dimanapun, tetapi konten yang mengambil angle lain yang sesuai dengan Target Audience.

5. Endorser yang tepat dengan konten yang relevan,

Sama dengan sebuah campaign ATL/BTL,dalam strategi digital penggunaan endorser bisa menjadi salah satu tools pendukung yang efektif. Pilih endorser sesuai karakter brand kita, jangan pilih berdasarkan popularitas saja. Endorser di dunia digital sering disebut dengan KOL (Key Opinion Leader), para KOL ini mempunyai massanya masing-masing dan gaya komunikasinya sendiri, baik didalam blog atau follower dari KOL tsb. Tujuan utama dari penggunaan KOL adalah menciptakan conversation terhadap brand / produk kita.

KOL ini tentu saja bisa berbayar atau tidak berbayar, tergantung dari seberapa bernilainya brand/produk kita dimata mereka. Ada banyak campaign yang menggunakan paid influencer/KOL berbayar tapi hasilnya kurang maksimal, karena mereka tidak menimbulkan impact yang luas, konten yang terlalu jelas bahwa konten tersebut berbayar, dan tidak relevan dengan brand.

Jika memang berbayar, sebaiknya menggunakan strategi efek bola salju agar hasilnya maksimal dengan konten yang relevan dan natural (jangan terlihat seperti berpromosi).

6. Mempunyai Measurement Framework yang sesuai dengan business objectives.

Kita akan tahu bahwa strategi digital yang dibuat apakah berhasil dan efektif berdasarkan hasil yang kita dapat. Tapi hasil yang seperti apa? Bagaimana untuk mengetahui hasilnya (Output dan Outcome)? Pertanyaan seperti ini bisa kita jawab ketika kita mempunyai sebuah kerangka pengukuran / Measurement Framework.

Measurement Framework yang benar, tidak melihat dari metrics apa yang akan dipakai, tapi melihat objective bisnis/campaignnya apa. Kemudian darisitu, kita menentukan kira-kira metrics yang utama apa, dan KPInya berapa.

Saat ini, masih banyak yang terjebak dalam metrics yang tidak menjawab kebutuhan bisnis, seperti dalam social media, , banyak yang lihatnya dari berapa jumlah likes, dsb. Sedangkan ada Metrics lain yang lebih menjawab kebutuhan brand.

Berikut adalah beberapa contoh bagaimana measurement  framework yang menjawab business objectives.

7. Optimisasi dari semua asset digital yang kita punya.

“Strategi yang ok sudah dibuat, endorser sudah berjalan, konten sudah perfect, channel yang dipilih sudah relevan tapi kenapa masih kurang efektif ya?”

Beberapa brand manager dan digital marketer banyak mengeluh hal yang serupa. Setelah dilihat problemnya, ternyata banyak dari asset digital yang mereka punya tidak teroptimisasi dengan baik, misalkan ternyata dalam salah satu halaman dari website kita ada struktur kode/elemen yang tidak ramah terhadap search engine, timing pada saat kita melakukan twitter update tidak sesuai dengan audience kita, desain kreatif yang ada di cover facebook page  kita sangat tidak sesuai dengan brand values, dsb.

Optimisasi dalam setiap asset digital tidaklah mudah. Perlu perhatian detail terhadap setiap bagian. Maka ada baiknya dilakukan review minimal sekali setiap minggunya untuk mengetahui apakah kita semakin membaik atau malah jauh dari efektif.

How to create a shitty brand?

Just found this visual graphics of venn, how to make a shitty brand, Funny!

Internal PR: Menjadikan Employee sebagai Corporate Endorser

Menjadikan Employee sebagai Corporate/Brand Endorser? Memang bisa? Tentu bisa. Caranya? Gunakan Internal Public Relations Strategy! Belum yakin? Unilever Indonesia buktinya!!

Public Relations jika ditempatkan di posisi strategis akan saya jamin akan membantu perusahaan Anda untuk mencapai Objectives & Goals, baik jangka pendek, jangka panjang, maupun disaat krisis. Public Relations juga tidak hanya dioptimalkan bagi External Stakeholders saja, tetapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah Internal Stakeholders, yaitu employee.

Masih dalam seminar Strategi PR yang lalu, Elvera Makki, ABC (Accredited Business Communicator), Internal PR Manager, Unilever membahas secara komplit mengenai strategi Internal PR tentang ”Internal Public Relations: How to switch employee’s paradigm becoming corporate endorser?”,

Read the rest of this entry

Sekali lagi tentang Public Relations 2.0

Sebenarnya saya cukup sering membahas tentang Public Relations 2.0 / Cyber Public Relations yang lekat dengan pekerjaan saya sehari-hari. Bahkan seringkali pembahasannya saya ulang, baik di milist, social media, twitter, sampai dengan diskusi radio. Namun banyak pula yang masih bertanya tentang ranah PR di dunia online.

Kali ini saya ingin berbagi kembali mengenai PR 2.0 dalam bentuk slide presentasi. Slide ini adalah slide yang dibahas di seminar Strategi PR #1: “How to build PR plan using social media, employee and community development?” dimana saya ikut serta menjadi salah satu organizer dalam seminar ini.

Pembicara yang membahas tentang PR 2.0, ialah Anantya Van Bronckhorst, (Executive Director and co-founder Think.Web), teman sekaligus partner saya dalam diskusi di radio D FM untuk sesi kenapaharuspr.com.

Di dalam seminar ini Anantya mengajak kita untuk mengetahui bagaimana menggunakan Social Media sebagai salah satu tools PR dalam brand strategy. Silahkan menyerap ilmu PR 2.0, dari presentasi berikut:

Read the rest of this entry

Pyramid Model of PR Research

PR Research and PR Audit by John Macnamara

Berubahlah, atau Corenglah Citramu!

Satu lagi aksi aksi reality show menggelitik terjadi di atap gedung DPR. Bukan di dalam lo! Kali ini bintangnya adalah Pong Harjatmo, artis film era 80-an yang populer di jamannya. Apa sih yang dilakukan? Ia memanjat gedung itu dan di atap kura-kura tersebut mencoret dengan cat merah tulisan ‘Jujur, Tegas, Adil’.

Tak ayal, aksinya itu dapat teguran dari para petinggi di dalam gedung dan Pong pun sempat diinterogasi oleh para petugas keamanan di DPR. Kabarnya, meski tak ditahan, Pong diharuskan menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya itu dan mengganti rugi.

Kenapa Pong lakukan aksi nekat itu?

Menurut Tempointerakatif Pong beralasan: “Selama ini baik dari pemerintah maupun wakil rakyat di DPR kok selalu mengambang nggak pernah selesai. Mulai dari kasus Century, gas meledak sampai absensi anggota dewan yang bolong-bolong itu,” kata Pong, pemain film tahun 80-an ini di depan ruang wartawan DPR, Jumat (30/7). Menurutnya, ia capai protes dan menyentil di televisi, tetapi tidak didengar, bahkan dianggap hanya entertaiment jenis baru.

Ya, minggu-minggu ini tampaknya para anggota DPR kita sedang (atau semakin?) kebal dengan kritik. Dimulai dari kritikan terhadap kinerja mereka yang lamban sikapi banyak hal, dari kasus Century, tabung gas 3 kg yang suka meledak sampai dengan suka absennya mereka dari rapat paripurna DPR RI. Konyolnya, setelah kritikan ini merebak, kelakuan mereka bukannya berubah namun tetap sama. Mereka malah saling menyalahkan dan lempar tanggung jawab. Luar biasa!

Asyiknya Reality Show

Kritik melalui Reality Show sepertinya memang perlu dilakukan untuk tarik perhatian publik, utamanya pihak yang dikritik. Itu juga yang sempat dilakukan Herry Mulyadi saat mengkritik buruknya citra PSSI dengan berlari menggiring bola ke gawang lawan (saat itu sedang ada pertandingan Indonesia VS Oman di ajang piala Asia 2010 lihat artikel: Saatnya Reality Show! ). Publik langsung terpana dan tersadar betapa buruknya prestasi sepakbola tanah air tercinta ini.

Ya, semoga upaya Pong memanjat dan mencorang-coreng atap gedung DPR RI berbuah manis. Terbukti dari tanggapan di social media yang mendukung aksi itu dengan tagar di twitter #Pongharjatmo.

Semoga juga para anggota dewan terhormat di dalam gedung nyaman itu juga menangkap pesan yang ingin disampaikan rakyat: Berubahlah, atau corenglah citramu!

Ditulis oleh Saifullah Kundo, Strategic Content Specialist, Praktisi PR, dan Mantan Wartawan
Editing,
Conversation Tracking, dan Ilustrasi oleh Takhta Pandu Padmanegara, Cyber Public Relations, Blogger, dan Visual Thinker.

Spin Doctor di Perhumas

Berawal dari diskusi di milis Perhumas tentang Spin Doctor, sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut lagi. Diskusi dimulai pada saat Ridwan N. Baik, “melempar bola pemantik” tentang Petaka Sang Jubir, kemudian diskusi pun dimulai. Berikut copy dari diskusinya:

Read the rest of this entry

Digital Marketing Outlook 2010

Halo semua, ahh lagi-lagi baru sempat ngeblog lagi. Banyak artikel yang menunggu giliran diupload, mungkin saya akan menggunakan publish by schedule saja mumpung hari ini libur, 6 artikel akan saya jadwalkan publishnya.

Yup, kali ini saya ingin berbagi mengenai Digital Marketing Outlook 2010, yang diproyeksikan oleh Society of Digital Agencies (I’m one of them, meskipun masih newbie).

Bagi yang belum tau, Society of Digital Agencies (SoDA) adalah Perkumpulan Praktisi Online Digital (agency) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas profesi dengan mengadakan diskusi, sharing knowledge, advokasi, dan edukasi mengenai dunia digital. Berikut adalah karya-karya praktisi yang tergabung dalam SoDA: Video

Dalam Digital Marketing Outlook (DMO) 2010 kali ini, banyak insight – insight baru dari para praktisi digital mengenai The Next Big Things in 2010.

Meskipun pada dasarnya mereka tetap setuju bahwa, yang paling utama dalam digital campaign adalah Strategi, bukan tools yang dipakai, bukan pula teknologi yang digunakan, tapi STRATEGI. Oleh karena lupakanlah digital agency yang malah membicarakan tools yang dipakai diawal tanpa membicarakan strategi besarnya.

Didalam DMO 2010 ini, ada juga hasil survey terhadap Agency, beberapa diantaranya adalah:

Disamping itu ada juga review mengenai emerging trends 2010, Interactive digital campaign, Digital Story, Augmented Reality,dsb. So, untuk lebih lengkapnya silahkan download DIGITAL MARKETING OUTLOOK 2010!!

The Future of Newspaper: How to Survive The New Media Shift

New Media was born with all the benefits and risks. The convergence of media (new media) has been predicted for years by many futurists. Human Being gets its benefits. What about the Traditional Media?  Previous years and now, we heard that Traditional Media has been left by consumer.

Oliver Reichenstein, the CEO of iA Japan, a strategic design agency, creating brand identities and user interfaces gives his thought about How to Survive the New Media Shift.

You can Download the ebook by clicking on the snapshot of the book or click here.

^_^ Enjoy and Share your opinion with me…

10 Guerrilla Marketing Terbaik

Marketing yang ngga biasa, bukan yang konvensional, ngga standar, penuh kreativitas, menimbulkan efek buzzing dan word-of-mouth, liputan media yang heboh, dan contagious (menular) seperti virus adalah ciri khas Guerrilla Marketing. Berikut adalah 10 best guerrila marketing pilihan saya,

1. T-Mobile

2. Red Bull

3. Burger King

4.Heineken

5. Skittles

6. Andes Beer

7. Coca Cola

8. Cesviamo

9.Bask, Sarah Aprillia

10. Dumin, Actavis

http://www.youtube.com/user/ririndumin

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,361 other followers